Hole Theory

0
2:33 AM

 Imagine you are a pilot in World War Two, flying a bomber plane over enemy territory. You know that your plane is vulnerable to enemy fire, and that many of your fellow pilots never make it back to base. How do you survive?


This is a question that mathematician Abraham Wald had to answer when he was asked to help the American military improve their planes' armor. He looked at the data of the planes that returned from combat, and noticed a pattern: they had bullet holes in certain areas, such as the wings, the tail gunner, and the center of the body. The military wanted to reinforce those areas with extra armor, but Wald had a different idea.


He suggested that they put extra armor where the bullet holes weren't. Why? Because he realized that the planes that returned were the survivors, and that the bullet holes they had showed where a plane could be hit and still fly. The planes that didn't return were the ones that were hit in other areas, such as the engine or the cockpit. Those areas were critical for survival, and needed more protection.


Wald's idea was based on a concept called survivorship bias, which is the tendency to focus only on the successful cases and ignore the failures. Survivorship bias can lead us to draw wrong conclusions from incomplete data, and make us overestimate our chances of success.


For example, if we only study successful entrepreneurs or startups, we might think that success is easy or common, and ignore all the factors that led to failure for many others. Or if we only read positive reviews of a product or service, we might think that it is flawless or perfect, and overlook the negative feedback that was deleted or hidden.


Survivorship bias can also affect our personal decisions and goals. We might compare ourselves to people who achieved fame or fortune, and think that we can do the same if we follow their advice or habits. But we might not see the whole picture of their struggles, challenges, luck, or opportunities that helped them along the way.


To avoid survivorship bias, we need to look at both sides of the coin: success and failure. We need to examine all the data available, not just the ones that confirm our beliefs or expectations. We need to ask ourselves: what are we missing? What are we not seeing? What are we not hearing?


By doing this, we can improve our critical thinking skills and make better decisions based on reality, not illusions.


Continue reading →

Empati, Berdiri Di Posisi Liyan

0
8:06 PM

Sebagai manusia, kita tentu nyaris setiap saat melihat dunia dari sudut pandang diri kita sendiri. Namun demikian, terkadang kita juga harus mampu melihat melalui perspektif orang lain, atau berempati. Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, memahami dan berbagi perasaan mereka, baik yang baik maupun yang buruk. Ini adalah kualitas yang kita semua miliki tetapi mungkin tidak selalu digunakan.


Berempati berarti memahami bagaimana perasaan orang lain tanpa menghakimi atau meremehkan. Kita dapat mendengarkan dan benar-benar mendengar apa yang mereka coba komunikasikan, memungkinkan kita untuk menghargai kehidupan melalui mata mereka. Pengetahuan ini dapat membantu kita menjadi teman, anggota keluarga, atau bahkan orang asing yang lebih baik di komunitas kita sendiri.


Melatih empati juga dapat membawa penerimaan yang lebih besar terhadap diri kita sendiri dan orang lain dengan menghubungkan kita melintasi batas fisik, emosional, dan mental. Entah itu kegembiraan atas kesuksesan seorang teman atau kesedihan atas peristiwa yang sulit—kita memiliki kekuatan untuk melakukan perjalanan ke perspektif yang berbeda dan merasakan kasih sayang satu sama lain. Mampu melihat dari pandangan ini memberikan pikiran terbuka untuk solusi yang dapat membantu kita bersatu alih-alih memisahkan kita.


Di saat-saat ketika emosi terasa terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata, menghabiskan waktu dengan berkonsentrasi pada sudut pandang orang lain dapat memberikan wawasan baru yang dapat mengubah situasi di hadapan Anda. Ketika kita membiarkan diri kita memiliki ruang empati semacam ini dalam hidup kita, kita membuka pikiran dan hati kita lebih dalam ke dalam hubungan yang bermakna yang didasarkan pada pemahaman kebutuhan satu sama lain.

Continue reading →

The Gas Sensor Saviour: Tim's Life-Saving Invention

0
7:54 PM

 Once upon a time, there was a boy named Tim who had a good friend named Maria. Tim and Maria lived in the same neighborhood and loved to play and explore together. One day, while Tim was at Maria's house, he heard a loud explosion and saw flames coming from the kitchen.


Tim immediately ran to Maria and helped her escape from the house. They were both shaken, but thankful that they were safe.


After the fire, Tim couldn't stop thinking about what had happened. He knew that the fire had been caused by a gas leak in the kitchen, and he couldn't bear the thought of something like this happening to anyone else.


So, Tim made a decision. He was going to create a device that could prevent fires caused by gas leaks. He spent all his free time working on this project, even though it was not easy.


Tim worked hard and learned everything he could about sensors and programming chips. Eventually, he succeeded in creating the device he had dreamed of. It was a small box with sensors that could detect gas leaks and a chip that could automatically shut off the gas supply if a leak was detected.


Tim was so proud of his invention and he knew it would help keep people safe. He shared his invention with his community, and soon it was being used in homes all around the neighborhood.


Thanks to Tim's hard work and determination, many people were protected from the dangers of gas leaks and fires. Tim's story shows us that with determination and hard work, we can overcome any challenge and make the world a safer place for everyone.


What was the name of the boy in the story?

Tim

Why did Tim's friend's house catch on fire?

There was a gas leak in the kitchen

What did Tim do after the fire at his friend's house?

He decided to create a device to prevent fires caused by gas leaks

What did Tim's device do?

It had sensors that could detect gas leaks and a chip that could automatically shut off the gas supply if a leak was detected

What did Tim's story teach us?

With determination and hard work, we can overcome any challenge and make the world a safer place for everyone.

Continue reading →

Usia

0
7:27 AM


Lihatlah kalender, hari demi hari berjalan semakin mendekati sebuah tanggal, ulang tahun. saat masih kanak-kanak atau saat remaja hari itu mungkin sangat ditunggu-tunggu, ada pesta kecil, ucapan-ucapan dan hadiah-hadiah. Ada kebanggaan bahwa umur semakin bertambah, semakin dewasa.

Tapi ketika usia semakin bertambah, perasaan itu sedikit demi sedikit menjadi berubah, berbalik. Dari kegembiraan dan kebanggaan menjadi semacam kekhawatiran. Betapa tidak, ketika usia tiba tiba 20, 25, 30,40... cepat sekali. Tiba-tiba kau temukan dirimu menjadi tua dan tanggal di kalender berkejar-kejaran tanpa seorangpun mampu menghentikan. Tiba-tiba kau sadari bahwa dirimu seperti diam saja, dari ulang tahun ke ulang tahun lain tak ada yang berubah, selain usia yang bertambah.

Lalu kau lihat dan bandingkan dengan orang lain. Bagi yang belum bertemu jodoh akan membandingkan dengan yang satu persatu menikah, lalu punya anak, lalu kau lihat diri sendiri lagi.

Atau lalu melihat satu persatu kawan yang mencapai sukses, menduduki jabatan penting, membangun rumahnya yang bagus, beberapa kali berganti mobil.. dan lalu beralih ke diri sendiri lagi..

Sudahlah, waktu tak dapat berhenti, impian tak semua dapat terwujud, kehidupan tiap orang tak selalu sama. Apa yang kau rasakan saat ini, yang telah kau peroleh dan capai, segala hal yang baik yang telah kau lakukan, itu bukanlah hal yang 'bukan apa-apa'. Adillah dalam menilai, juga kepada dirimu sendiri, kamu-pun telah melakukan banyak hal-hal penting dan hebat. Hanya saja kau merasa itu adalah hal biasa saja, padahal kenyataannya banyak dari hal-hal itu adalah karya dan pencapaian luar biasa, hanya saja tak kau sadari. Kau mungkin tak pernah tahu bahwa bisa jadi banyak orang yang sesungguhnya 'iri' dengan dirimu dan pencapaianmu.

Jadi, ingatlah bahwa perasaan sebagai 'tak ada kemajuan' dalam hidupmu itu tak sepenuhnya benar. Perasaan seperti itu juga dirasakan hampir semua orang, termasuk yang kau nilai paling sukses sekalipun. Lalu apa makna ketika usia semakin bertambah? Nilailah dirimu sendiri lagi, kali ini dengan lebih objektif dan fair, kemudian lanjutkan hidupmu.

Selamat berulang-tahun bagimu yang merayakan, baik dengan pesta hingar bingar atau dalam sepi dan kesendirian. Continue reading →

Bebas Itu Nyata?

0
6:17 AM


Entah apa maksud kutipan iklan itu. Katanya bebas itu “omong kosong”, dalam pikiranku langsung terfikir maksudnya ini mau mengkritik atau menyindir budaya atau kebiasaan sebagian kita. Ini terlihat kalau kita cermati lagi kelanjutan iklan itu (versi cewek):
Katanya, aku bebas berekspresi. Tapi selama rok di bawah lutut.  Mumpung masih muda nikmati sepuasnya. Asal jangan lewat dari jam 10 malam Katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tanganku. Asalkan se-suku, kalo bisa kaya, pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik. Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya. Selama ikutin pilihan yang ada.
Melihat iklan itu memngingatkan salah satu episode seri kartun, Autobegood. Ada sebuah klub yang diikuti beberapa orang. Seorang anak yang ikut klub itu bosan dengan peraturan-peraturan. Ia lalu mendeklarasikan sebuah klub baru namanya “Klub Tanpa Peraturan”. Waktu itu ada yang merasa aneh dan nyeletuk “ini kok terdengar seperti peraturan ya?”. Dalam waktu singkat klub itu mendapat banyak anggota. Ketika para anggota berkumpul terjadi kegaduhan. Setiap anggota ingin berbicara paling duluan sehingga keadaan menjadi kacau karena semua berbicara dan tak ada yang mau mendengar. Si pemimpin lalu menunjuk siapa-siapa yang berbicara dulu. Yang lain protes, dan menganggap itu sebagai menyalahi “peraturan” bahwa di klub itu “tidak ada peraturan” dan seterusnya sampai kepada kesimpulan bahwa tak mungkin kita hidup dengan banyak orang tanpa peraturan yang disepakati dan ditaati bersama.

Kembali ke iklan itu, sepertinya maunya menyindir, tapi kok rasanya kurang tepat. Meski hanya sebuah iklan operator, pesan iklan ini seperti sedang mengkampanyekan kebebasan yang salah kaprah dan cenderung liberal. Di tengah euforia kebebasan yang mulai kehilangan arah, iklan ini sepertinya malah menambah semakin parah dalam memahami kebebasan. Dan yang aneh dan ironis adalah iklan diakhiri jargon “Bebas Itu Nyata”, menawarkan akses sepuasnya TAPI, hanya ke 10 situs populer saja, dan kesepuluh situs itu sudah ditentukan. Bukankah terdengar sebagai sebuah pembatasan?

Lalu, apakah Kamu memang menginginkan kebebasan di luar pilihan yang ada? Atau mau bebas sebebas-bebasnya? Atau bebas yang seperti apa?
Mengutip kata Pandji, “Bebas itu punya saudara kembar, namanya Tanggung Jawab”
So, Think Again!

Gambar Flickr Continue reading →

Kawan

0
6:14 AM

“Hai, gimanakabarmu? Sekarang dimana? Sudah berapa lama kitatidak ketemu ya.. Punya anak berapa?”
Tiba-tiba obrolan menyeruak, memberondong manakala hampir tanpa sengaja ketemu kawan lama di Facebook. Seolah tak sabar untuk bertanya apa saja sampai-sampai belum sempat terjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain segera menyusul, kadang dengan ejaan yang salah karena terburu-buru memencet keyboard.

Kawan, teman, sahabat atau apapun kamu menyebutnya, seringkali sudah seperti saudara. Terkadang menemukannya di kala masa paling sulit di kehidupan kita. Kadang hadir tiba-tiba dan menjadi bagian penting dari sejarah kita. Meski tak ada hubungan darah sekalipun, terkadang ikatan batin yang terjalin begitu kuat.

Dengan kawan, kita tak saja berbagi suka dan duka tapi juga acapkali saling sengit atau bahkan memuncakkan emosi sampai ubun-ubun untuk kemudian kembali lagi menyadari bahwa kita tak akan mampu melanjutkan perjalanan jika tak bersama-sama.

Dengan kawan kita tak hanya membangun sebuah kemengan, prestasi dan kebanggaan, tapi juga pernah kebodohan, kekalahan dan kisah yang memilukan sampai memalukan.
Dan kawan biasanya lalu akan berlalu seiring waktu untuk menemukan hidupnya sendiri, mengejar mimpi-mimpinya sendiri, entah kemana. Tahu-tahu dia pergi dan kita pun sibuk dengan hidup kita sendiri.

Namun kawan sejati tak pernah pergi dari hati. Betapapun dia membuat marah atau kesalahan, dia adalah bagian dari hidup kita yang bagaimanapun telah mewarnai kidah kita. Ia telah mengajarkan hidup dengan caranya sendiri kepada kita. Sebagaimana pula sebaliknya.
Jadi jika Kamu kebetulan menemukan jejak kawan lamamu di timeline Facebook, sapalah dengan hangat, seperti dahulu… sebagai kawan sejati..

Gambar: Flickr Continue reading →

Aku Menulis, Maka Aku Ada

0
6:14 AM


Kalau saja engkau membaca tulisan-tulisanku mungkin kamu akan berpikir tentang siapa aku. Tak penting apakah persepsimu seperti kenyataannya. Tak penting apakah tulisanku membuatmu haru, tertawa, sedih, bahagia. Kamu tak perlu bertemu aku untuk tahu apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Dan ketika kamu membaca tulisan ini saja, itu sudah cukup.

Ketika seorang anak muda, di kala belum ada internet atau HP, menulis surat kecil dengan jantung berdegup. Ingin mengutarakan perasaan kepada gadis pujaan. Si dia mungkin bukan gadis paling cantik di seantero kampung. Bukan pula yang terpintar di sekolah. Tapi entah kenapa Si Pemuda begitu berbunga-bunga ketika melihat senyumnya atau sekedar melihat kelebat kepang rambutnya. Bicaranya mendadak tergagap-gagap ketika tiba-tiba disapa. Dan malam itu, kata demi kata mengalir di kertas yang menjadi kumal karena keringat dingin di telapak tangannya. Lalu sesaat kemudian kertas itu diremas, dan dilempar begitu saja. Dua kali, tiga kali dan entah berapa kali, sampai akhirnya dia menyerah. Ia takut kalau-kalau nanti Si Gadis akan marah, menolak, lalu membenci dan tak lagi mau berteman.

Tak pernah ada tulisan itu. Kata-kata itu hilang begitu saja. Perasaan itu terpendam selamanya. Padahal sebenarnya, jikasaja ia tahu, si Gadis juga memiliki perasaan yang hampir sama. Si Gadis akhirnya disunting pemuda desa sebelah yang bahkan tak dikenal sebelumnya. Barangkali saja akan lain ceritanya andai kertas kumal itu sampai di tangannya. Akan berbeda kisahnya jika saja kertas itu sampai di tangan kecilnya dan kata-kata sederhana itu tersampaikan dan terbaca dengan berbagai rasa..

Dan itu karena ada atau tidaknya rangkaian kata-kata..
………….
Tentu saja, biarlah kata-kata ini, tulisan-tulisan ini mengalir, entah ia akan sampai kepada “Si Gadis” (alias tujuan) atau hanya menjadi kertas kumal yang terjepit di tumpukan buku. Yang pasti, kamu disini, membacanya, maka akupun menjadi ada… Continue reading →