Aku Menulis, Maka Aku Ada
0Kalau saja engkau membaca tulisan-tulisanku mungkin kamu akan berpikir tentang siapa aku. Tak penting apakah persepsimu seperti kenyataannya. Tak penting apakah tulisanku membuatmu haru, tertawa, sedih, bahagia. Kamu tak perlu bertemu aku untuk tahu apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Dan ketika kamu membaca tulisan ini saja, itu sudah cukup.
Ketika seorang anak muda, di kala belum ada internet atau HP, menulis surat kecil dengan jantung berdegup. Ingin mengutarakan perasaan kepada gadis pujaan. Si dia mungkin bukan gadis paling cantik di seantero kampung. Bukan pula yang terpintar di sekolah. Tapi entah kenapa Si Pemuda begitu berbunga-bunga ketika melihat senyumnya atau sekedar melihat kelebat kepang rambutnya. Bicaranya mendadak tergagap-gagap ketika tiba-tiba disapa. Dan malam itu, kata demi kata mengalir di kertas yang menjadi kumal karena keringat dingin di telapak tangannya. Lalu sesaat kemudian kertas itu diremas, dan dilempar begitu saja. Dua kali, tiga kali dan entah berapa kali, sampai akhirnya dia menyerah. Ia takut kalau-kalau nanti Si Gadis akan marah, menolak, lalu membenci dan tak lagi mau berteman.
Tak pernah ada tulisan itu. Kata-kata itu hilang begitu saja. Perasaan itu terpendam selamanya. Padahal sebenarnya, jikasaja ia tahu, si Gadis juga memiliki perasaan yang hampir sama. Si Gadis akhirnya disunting pemuda desa sebelah yang bahkan tak dikenal sebelumnya. Barangkali saja akan lain ceritanya andai kertas kumal itu sampai di tangannya. Akan berbeda kisahnya jika saja kertas itu sampai di tangan kecilnya dan kata-kata sederhana itu tersampaikan dan terbaca dengan berbagai rasa..
Dan itu karena ada atau tidaknya rangkaian kata-kata..
………….
Tentu saja, biarlah kata-kata ini, tulisan-tulisan ini mengalir, entah ia akan sampai kepada “Si Gadis” (alias tujuan) atau hanya menjadi kertas kumal yang terjepit di tumpukan buku. Yang pasti, kamu disini, membacanya, maka akupun menjadi ada…
0 comments: