Usia

0
7:27 AM


Lihatlah kalender, hari demi hari berjalan semakin mendekati sebuah tanggal, ulang tahun. saat masih kanak-kanak atau saat remaja hari itu mungkin sangat ditunggu-tunggu, ada pesta kecil, ucapan-ucapan dan hadiah-hadiah. Ada kebanggaan bahwa umur semakin bertambah, semakin dewasa.

Tapi ketika usia semakin bertambah, perasaan itu sedikit demi sedikit menjadi berubah, berbalik. Dari kegembiraan dan kebanggaan menjadi semacam kekhawatiran. Betapa tidak, ketika usia tiba tiba 20, 25, 30,40... cepat sekali. Tiba-tiba kau temukan dirimu menjadi tua dan tanggal di kalender berkejar-kejaran tanpa seorangpun mampu menghentikan. Tiba-tiba kau sadari bahwa dirimu seperti diam saja, dari ulang tahun ke ulang tahun lain tak ada yang berubah, selain usia yang bertambah.

Lalu kau lihat dan bandingkan dengan orang lain. Bagi yang belum bertemu jodoh akan membandingkan dengan yang satu persatu menikah, lalu punya anak, lalu kau lihat diri sendiri lagi.

Atau lalu melihat satu persatu kawan yang mencapai sukses, menduduki jabatan penting, membangun rumahnya yang bagus, beberapa kali berganti mobil.. dan lalu beralih ke diri sendiri lagi..

Sudahlah, waktu tak dapat berhenti, impian tak semua dapat terwujud, kehidupan tiap orang tak selalu sama. Apa yang kau rasakan saat ini, yang telah kau peroleh dan capai, segala hal yang baik yang telah kau lakukan, itu bukanlah hal yang 'bukan apa-apa'. Adillah dalam menilai, juga kepada dirimu sendiri, kamu-pun telah melakukan banyak hal-hal penting dan hebat. Hanya saja kau merasa itu adalah hal biasa saja, padahal kenyataannya banyak dari hal-hal itu adalah karya dan pencapaian luar biasa, hanya saja tak kau sadari. Kau mungkin tak pernah tahu bahwa bisa jadi banyak orang yang sesungguhnya 'iri' dengan dirimu dan pencapaianmu.

Jadi, ingatlah bahwa perasaan sebagai 'tak ada kemajuan' dalam hidupmu itu tak sepenuhnya benar. Perasaan seperti itu juga dirasakan hampir semua orang, termasuk yang kau nilai paling sukses sekalipun. Lalu apa makna ketika usia semakin bertambah? Nilailah dirimu sendiri lagi, kali ini dengan lebih objektif dan fair, kemudian lanjutkan hidupmu.

Selamat berulang-tahun bagimu yang merayakan, baik dengan pesta hingar bingar atau dalam sepi dan kesendirian.

0 comments:

Bebas Itu Nyata?

0
6:17 AM


Entah apa maksud kutipan iklan itu. Katanya bebas itu “omong kosong”, dalam pikiranku langsung terfikir maksudnya ini mau mengkritik atau menyindir budaya atau kebiasaan sebagian kita. Ini terlihat kalau kita cermati lagi kelanjutan iklan itu (versi cewek):
Katanya, aku bebas berekspresi. Tapi selama rok di bawah lutut.  Mumpung masih muda nikmati sepuasnya. Asal jangan lewat dari jam 10 malam Katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tanganku. Asalkan se-suku, kalo bisa kaya, pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik. Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya. Selama ikutin pilihan yang ada.
Melihat iklan itu memngingatkan salah satu episode seri kartun, Autobegood. Ada sebuah klub yang diikuti beberapa orang. Seorang anak yang ikut klub itu bosan dengan peraturan-peraturan. Ia lalu mendeklarasikan sebuah klub baru namanya “Klub Tanpa Peraturan”. Waktu itu ada yang merasa aneh dan nyeletuk “ini kok terdengar seperti peraturan ya?”. Dalam waktu singkat klub itu mendapat banyak anggota. Ketika para anggota berkumpul terjadi kegaduhan. Setiap anggota ingin berbicara paling duluan sehingga keadaan menjadi kacau karena semua berbicara dan tak ada yang mau mendengar. Si pemimpin lalu menunjuk siapa-siapa yang berbicara dulu. Yang lain protes, dan menganggap itu sebagai menyalahi “peraturan” bahwa di klub itu “tidak ada peraturan” dan seterusnya sampai kepada kesimpulan bahwa tak mungkin kita hidup dengan banyak orang tanpa peraturan yang disepakati dan ditaati bersama.

Kembali ke iklan itu, sepertinya maunya menyindir, tapi kok rasanya kurang tepat. Meski hanya sebuah iklan operator, pesan iklan ini seperti sedang mengkampanyekan kebebasan yang salah kaprah dan cenderung liberal. Di tengah euforia kebebasan yang mulai kehilangan arah, iklan ini sepertinya malah menambah semakin parah dalam memahami kebebasan. Dan yang aneh dan ironis adalah iklan diakhiri jargon “Bebas Itu Nyata”, menawarkan akses sepuasnya TAPI, hanya ke 10 situs populer saja, dan kesepuluh situs itu sudah ditentukan. Bukankah terdengar sebagai sebuah pembatasan?

Lalu, apakah Kamu memang menginginkan kebebasan di luar pilihan yang ada? Atau mau bebas sebebas-bebasnya? Atau bebas yang seperti apa?
Mengutip kata Pandji, “Bebas itu punya saudara kembar, namanya Tanggung Jawab”
So, Think Again!

Gambar Flickr

0 comments:

Kawan

0
6:14 AM

“Hai, gimanakabarmu? Sekarang dimana? Sudah berapa lama kitatidak ketemu ya.. Punya anak berapa?”
Tiba-tiba obrolan menyeruak, memberondong manakala hampir tanpa sengaja ketemu kawan lama di Facebook. Seolah tak sabar untuk bertanya apa saja sampai-sampai belum sempat terjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain segera menyusul, kadang dengan ejaan yang salah karena terburu-buru memencet keyboard.

Kawan, teman, sahabat atau apapun kamu menyebutnya, seringkali sudah seperti saudara. Terkadang menemukannya di kala masa paling sulit di kehidupan kita. Kadang hadir tiba-tiba dan menjadi bagian penting dari sejarah kita. Meski tak ada hubungan darah sekalipun, terkadang ikatan batin yang terjalin begitu kuat.

Dengan kawan, kita tak saja berbagi suka dan duka tapi juga acapkali saling sengit atau bahkan memuncakkan emosi sampai ubun-ubun untuk kemudian kembali lagi menyadari bahwa kita tak akan mampu melanjutkan perjalanan jika tak bersama-sama.

Dengan kawan kita tak hanya membangun sebuah kemengan, prestasi dan kebanggaan, tapi juga pernah kebodohan, kekalahan dan kisah yang memilukan sampai memalukan.
Dan kawan biasanya lalu akan berlalu seiring waktu untuk menemukan hidupnya sendiri, mengejar mimpi-mimpinya sendiri, entah kemana. Tahu-tahu dia pergi dan kita pun sibuk dengan hidup kita sendiri.

Namun kawan sejati tak pernah pergi dari hati. Betapapun dia membuat marah atau kesalahan, dia adalah bagian dari hidup kita yang bagaimanapun telah mewarnai kidah kita. Ia telah mengajarkan hidup dengan caranya sendiri kepada kita. Sebagaimana pula sebaliknya.
Jadi jika Kamu kebetulan menemukan jejak kawan lamamu di timeline Facebook, sapalah dengan hangat, seperti dahulu… sebagai kawan sejati..

Gambar: Flickr

0 comments:

Aku Menulis, Maka Aku Ada

0
6:14 AM


Kalau saja engkau membaca tulisan-tulisanku mungkin kamu akan berpikir tentang siapa aku. Tak penting apakah persepsimu seperti kenyataannya. Tak penting apakah tulisanku membuatmu haru, tertawa, sedih, bahagia. Kamu tak perlu bertemu aku untuk tahu apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Dan ketika kamu membaca tulisan ini saja, itu sudah cukup.

Ketika seorang anak muda, di kala belum ada internet atau HP, menulis surat kecil dengan jantung berdegup. Ingin mengutarakan perasaan kepada gadis pujaan. Si dia mungkin bukan gadis paling cantik di seantero kampung. Bukan pula yang terpintar di sekolah. Tapi entah kenapa Si Pemuda begitu berbunga-bunga ketika melihat senyumnya atau sekedar melihat kelebat kepang rambutnya. Bicaranya mendadak tergagap-gagap ketika tiba-tiba disapa. Dan malam itu, kata demi kata mengalir di kertas yang menjadi kumal karena keringat dingin di telapak tangannya. Lalu sesaat kemudian kertas itu diremas, dan dilempar begitu saja. Dua kali, tiga kali dan entah berapa kali, sampai akhirnya dia menyerah. Ia takut kalau-kalau nanti Si Gadis akan marah, menolak, lalu membenci dan tak lagi mau berteman.

Tak pernah ada tulisan itu. Kata-kata itu hilang begitu saja. Perasaan itu terpendam selamanya. Padahal sebenarnya, jikasaja ia tahu, si Gadis juga memiliki perasaan yang hampir sama. Si Gadis akhirnya disunting pemuda desa sebelah yang bahkan tak dikenal sebelumnya. Barangkali saja akan lain ceritanya andai kertas kumal itu sampai di tangannya. Akan berbeda kisahnya jika saja kertas itu sampai di tangan kecilnya dan kata-kata sederhana itu tersampaikan dan terbaca dengan berbagai rasa..

Dan itu karena ada atau tidaknya rangkaian kata-kata..
………….
Tentu saja, biarlah kata-kata ini, tulisan-tulisan ini mengalir, entah ia akan sampai kepada “Si Gadis” (alias tujuan) atau hanya menjadi kertas kumal yang terjepit di tumpukan buku. Yang pasti, kamu disini, membacanya, maka akupun menjadi ada…

0 comments: