Bebas Itu Nyata?
0Entah apa maksud kutipan iklan itu. Katanya bebas itu “omong kosong”, dalam pikiranku langsung terfikir maksudnya ini mau mengkritik atau menyindir budaya atau kebiasaan sebagian kita. Ini terlihat kalau kita cermati lagi kelanjutan iklan itu (versi cewek):
Katanya, aku bebas berekspresi. Tapi selama rok di bawah lutut. Mumpung masih muda nikmati sepuasnya. Asal jangan lewat dari jam 10 malam Katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tanganku. Asalkan se-suku, kalo bisa kaya, pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik. Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya. Selama ikutin pilihan yang ada.Melihat iklan itu memngingatkan salah satu episode seri kartun, Autobegood. Ada sebuah klub yang diikuti beberapa orang. Seorang anak yang ikut klub itu bosan dengan peraturan-peraturan. Ia lalu mendeklarasikan sebuah klub baru namanya “Klub Tanpa Peraturan”. Waktu itu ada yang merasa aneh dan nyeletuk “ini kok terdengar seperti peraturan ya?”. Dalam waktu singkat klub itu mendapat banyak anggota. Ketika para anggota berkumpul terjadi kegaduhan. Setiap anggota ingin berbicara paling duluan sehingga keadaan menjadi kacau karena semua berbicara dan tak ada yang mau mendengar. Si pemimpin lalu menunjuk siapa-siapa yang berbicara dulu. Yang lain protes, dan menganggap itu sebagai menyalahi “peraturan” bahwa di klub itu “tidak ada peraturan” dan seterusnya sampai kepada kesimpulan bahwa tak mungkin kita hidup dengan banyak orang tanpa peraturan yang disepakati dan ditaati bersama.
Kembali ke iklan itu, sepertinya maunya menyindir, tapi kok rasanya kurang tepat. Meski hanya sebuah iklan operator, pesan iklan ini seperti sedang mengkampanyekan kebebasan yang salah kaprah dan cenderung liberal. Di tengah euforia kebebasan yang mulai kehilangan arah, iklan ini sepertinya malah menambah semakin parah dalam memahami kebebasan. Dan yang aneh dan ironis adalah iklan diakhiri jargon “Bebas Itu Nyata”, menawarkan akses sepuasnya TAPI, hanya ke 10 situs populer saja, dan kesepuluh situs itu sudah ditentukan. Bukankah terdengar sebagai sebuah pembatasan?
Lalu, apakah Kamu memang menginginkan kebebasan di luar pilihan yang ada? Atau mau bebas sebebas-bebasnya? Atau bebas yang seperti apa?
Mengutip kata Pandji, “Bebas itu punya saudara kembar, namanya Tanggung Jawab”
So, Think Again!
Gambar Flickr
0 comments: